INFORMATIKA

BAB I Berpikir Komputasional

Materi 1: Proposisi
Proposisi

Proposisi adalah pernyataan yang memiliki nilai kebenaran, yaitu bisa dinilai benar (true) atau salah (false), tapi tidak keduanya sekaligus namun tergantung kondisi nyata nilai kebenarannya bisa benar/salah tergantung konteks penyataan yang jelas.

Singkatnya Kalimat berita/deklaratif yang memberitahukan kebenaran dengan pernyataan yang jelas dengan bukti nyata/fakta, bukan kalimat tanya, kalimat perintah dan kalimat ambigu.

1: Ciri Ciri Proposisi

  • Kalimat berita / deklaratif (pernyataan)
  • Memiliki nilai kebenaran (benar atau salah)
  • Tidak ambigu atau tidak meragukan
  • Tidak bersifat perasaan atau ekspresi
  • Contoh Kalimat Proposisi


2: Contoh Kalimat Proposisi

  • “Matahari terbit dari timur.” (Benar)
  • “Air membeku pada 0°C.” (Benar)
  • “Bumi berbentuk bulat.” (Benar)
  • "Gajah Makan Daging " (Salah)
  • "Cuaca Hari ini panas" (tergantung kondisi dihari itu awan mendung atau cerah, jika cerah maka Benar dan jika mendung maka Salah)

3: Contoh bukan Proposisi

  • "Siapa nama kamu?" (kalimat pertanyaan)
  • "Tolong tutup pintu itu!" (kalimat perintah)
  • "Wah, indah sekali!" (menunjukan ekspresi/perasaan)

Materi 2: Logika Negasi, Konjungsi, Disjungsi dan Implikasi
Logika Negasi, Konjungsi, Disjungsi dan Implikasi

Logika negasi, konjungsi, disjungsi, dan implikasi adalah cara-cara dasar dalam logika proposisional untuk mengolah pernyataan benar–salah.

  • Negasi berfungsi membalik nilai kebenaran,

  • Konjungsi menyatakan gabungan dua kondisi yang harus sama-sama benar,

  • Disjungsi menyatakan pilihan dimana cukup salah satu benar,

  • Implikasi menunjukkan hubungan sebab-akibat “jika… maka…”.

1: Logika Negasi

Negasi adalah operasi logika yang mengubah nilai kebenaran sebuah proporsi menjadi kebalikannya. Jika proporsi asalnya benar, negasinya salah, dan sebaliknya. Simbol umum untuk negasi adalah ¬ (bukan), ∼, atau tanda (-)minus di depan.

Ciri-ciri Negasi : 

  • Membalikkan nilai kebenaran dari suatu pernyataan
  • Jika pernyataan Benar, maka negasinya Salah.
  • Jika pernyataan Salah, maka negasinya Benar
  • Ditandai kata: “tidak”, “bukan”, “belum”.

Contoh Negasi :

  • P = "Langit berwarna biru." (Benar)
  • -P = "Langit tidak berwarna biru" (Salah)
  • P = "Gajah adalah hewan kecil." (Salah)
  • -P = "Gajah bukan hewan kecil." (Benar)
  • P = "Hari ini cuaca mendung" (Benar)
  • -P = "Hari ini cuaca tidak mendung" (Salah)

  • P = "Motor menggunakan bahan bakar solar" (Salah)
  • -P = "Motor tidak menggunakan bahan bakar solar" (Benar)

2: Logika Konjungsi

Konjungsi dalam logika adalah operasi logika yang menghubungkan dua pernyataan dengan kata sambung “dan” (dalam bahasa Inggris: "and"). dengan simbol "∧" / V terbalik
Hasil dari konjungsi akan bernilai benar (true) jika kedua pernyataan P dan Q yang digabungkan juga benar semua.

Ciri-ciri Logika Konjungsi:

  • Menggabungkan dua proposisi dengan kata hubung “Dan”.
  • Jika kedua pernyataan BENAR maka hasil nilai kebenaran akan BENAR, jika salah satu pernyataan SALAH bernilai maka hasilnya akan SALAH.
  • Table nilai kebenaran Konjungsi:
PQHASILNILAI
BENARBENARP QBENAR
BENARSALAHP QSALAH
SALAHBENARP QSALAH
SALAHSALAHP QSALAH

Contoh Sederhana:

  • Pernyataan P: "Saya lapar." (Benar)
  • Pernyataan Q: "Saya haus." (Benar)
  • Kesimpulan Konjungsi (P ∧ Q) = "Saya lapar dan saya haus." (BENAR

  • Pernyataan P : "Burung unta dapat terbang" (Salah
  • Pernyataan Q : "Burung unta hidup didarat" (Benar
  • Kesimpulan Konjungsi : (P ∧ Q) = Burung unta dapat terbang dan hidup didarat (SALAH) 

  • Pernyataan P: "Aan belajar diruang kelas" (Benar)
  • Pernyataan Q: "Dia asik bermain game ketika pembejalaran" (Salah)
  • Kesimpulan Konjungsi (P ∧ Q) = "Aan belajar diruang kelas dan Dia asik bermain game ketika pembejalaran" (SALAH)
  • Pernyataan P: "Rendi anak pandai " (Benar)
  • Pernyataan Q: "Rendi suka aktif bertanya dijam pembelajaran kelas" (Benar)
  • Kesimpulan Konjungsi (P ∧ Q) = "Rendi anak pandai dan  suka aktif bertanya dijam pembelajaran kelas" (BENAR)

3: Logika Disjungsi

Disjungsi adalah operasi logika yang menggabungkan dua kalimat atau lebih, dan hasilnya akan BENAR jika salah satu kalimat / pernyataan bernilai benar. Hasilnya hanya akan bernilai SALAH jika semua kalimat/pernyataan yang digabungkan hasilnya bernilai SALAH. Simbol umum untuk disjungsi adalah ∨ (atau).

Ciri-ciri Logika Disjungsi:

  • Menggabungkan dua proposisi dengan kata “atau”.
  • Hasilnya akan bernilai Benar jika salah satu atau kedua kalimat/pernyataan Benar.
  • Hanya Salah jika kedua pernyataan Salah
  • Tabel Kebenaran Logika Disjungsi :
PQHASILNILAI
BenarBenarP QBenar
BenarSalahP QBenar
SalahBenarP QBenar
SalahSalahP QSalah

Contoh Sederhana :

  • P : Kamu mengikuti lomba. (BENAR)
  • Q : Kamu menjadi panitia. (BENAR)
  • K : "Kamu mengikuti lomba atau menjadi panitia" (BENAR)
  • P : Permainan sepak bola satu tim berjumlah 13 pemain (SALAH)
  • Q : Sepakbola bermain tanpa menggunakan gawang (SALAH)
  • K : "Sepakbola bermain tanpa menggunakan gawang atau Permainan sepak bola satu tim berjumlah 13 pemain" (SALAH)
  • P : Kamu menyukai olahraga voli. (BENAR)
  • Q : Olahraga voli menggunakan net tenis. (SALAH)
  • K : "Kamu menyukai olahraga voli. atau Olahraga voli menggunakan net tenis" (BENAR)

 

Materi 3: Penalaran Deduktif, Induktif dan Abduktif
Penalaran Deduktif, Induktif dan Abduktif

Penalaran Deduktif, Induktif, dan Abduktif adalah tiga cara berpikir logis yang digunakan manusia untuk menarik kesimpulan dari suatu pernyataan atau fakta.

  1. Deduktif adalah penalaran yang bergerak dari hal yang bersifat umum menuju hal yang khusus. Jika premis yang digunakan benar, maka kesimpulannya pasti benar.
    Contohnya:
    Premis Umum : Semua manusia pasti mati.
    Premis Khusus : Ali adalah manusia.
    Kesimpulan : Maka, Ali pasti mati.

  2. Induktif adalah penalaran yang berangkat dari hal-hal khusus (fakta atau data) menuju kesimpulan yang lebih umum. Kesimpulan induktif tidak menjamin kebenaran mutlak, melainkan hanya kemungkinan.
    Contohnnya :
    Fakta 1 : Burung merpati bisa terbang,
    Fakta 2 : Burung pipit bisa terbang,
    Fakta 3 : Burung elang bisa terbang
    Kesimpulan : Maka semua burung bisa terbang. (Padahal ada burung unta yang tidak bisa terbang).

  3. Abduktif adalah penalaran yang berangkat dari suatu fakta atau gejala untuk mencari dugaan/penyebab terbaik yang paling masuk akal sebagai penjelasannya. Kesimpulan abduktif tidak pasti, tapi merupakan penjelasan yang paling mungkin.
    Contoh: Jalanan basah pagi ini → kemungkinan besar tadi malam hujan.

1: Penalaran Deduktif

Penalaran Deduktif adalah proses berpikir/penarikan kesimpulan dari hal yang umum menuju hal yang khusus. Jika semua premis benar dan logis, maka kesimpulannya pasti benar. Pengertian lain yaitu penarikan kesimpulan dari premis umum menuju ke premis khusus.

  • Premis Mayor/Umum adalah pernyataan yang sifatnya umum atau sudah diketahui secara umum, berlaku untuk banyak hal atau semua anggota kelompok/jenis kelompok.
  • Premis Minor/Khusus adalah pernyataan yang lebih spesifik, biasanya menyebut orang/objek tertentu, untuk mendukung terbentuknya kesimpulan.

Ciri-ciri Penalaran Deduktif :

  • Dari premis/pernyataan Umum
  • Menghasilkan kesimpulan Khusus
  • Kebenarannya bersifat mutlak

Contoh Pola :

  • Premis Umum = Semua A adalah B
  • Premis Khusus = C (C adalah objek tertentu) adalah A
  • Kesimpulan = Jadi, C adalah B

Contoh Penalaran Deduktif :

  • Premis Umum : Semua Siswa di sekolah harus pakai seragam.
  • Premis Khusus : Dani adalah Siswa di sekolah itu.
  • Kesimpulan : Jadi, Dani harus pakai seragam
  • Premis Umum : Semua burung memiliki sayap.
  • Premis Khusus : Merpati adalah burung.
  • Kesimpulan : Jadi, Merpati memiliki sayap
  • Premis Umum : Semua mobil membutuhkan bahan bakar.
  • Premis Khusus : Avanza adalah mobil.
  • Kesimpulan : Jadi, Avanza membutuhkan bahan bakar

2: Penalaran Induktif

Penalaran Induktif adalah penalaran / penarikan kesimpulan dari hal-hal khusus (berupa fakta / data) menuju ke penarikan kesimpulan yang lebih umum yang sudah diketahui secara umum. Kesimpulan induktif tidak menjamin kebenaran mutlak, melainkan hanya kemungkinan saja.

Ciri Ciri Penalaran Induktif :

  • Diberikan sebuah fakta/data khusus
  • Kemudian disimpulkan secara umum berdasarkan dari data/fakta ( biasanya disajikan data Fakta 1-3)
  • Kebenarannya tidak mutlak (bisa salah)

Contoh Penalaran Induktif:

  • Fakta 1: Ikan nila di kolam A tumbuh besar dengan pakan pelet.
  • Fakta 2: Ikan nila di kolam B juga tumbuh besar dengan pakan pelet.
  • Fakta 3: Ikan nila di kolam C pun demikian.
  • Kesimpulan: Ikan nila tumbuh besar jika diberi pakan pelet.
  • Fakta 1: Rina belajar kelompok dan nilainya meningkat.
  • Fakta 2: Irfan juga belajar kelompok dan hasil ujiannya bagus.
  • Fakta 3: Nia setelah belajar kelompok jadi lebih paham materi.
  • Kesimpulan: Belajar kelompok dapat meningkatkan pemahaman siswa.
  • Fakta 1: Tim voli SMK 1 menang karena rutin latihan setiap hari.
  • Fakta 2: Tim voli SMK 2 juga menang dan mereka latihan tiap sore.
  • Fakta 3: Tim voli SMK 3 rajin latihan dan selalu masuk final.
  • Kesimpulan: Dengan Rutin latihan dapat meningkatkan skill tim voli sekolah.

3: Penalaran Abduktif

Penalaran Abduktif adalah penalaran yang menyimpulkan dari suatu masalah atau gejala kemudian mencari dugaan / penyebab terbaik bagaimana itu bisa terjadi dan paling masuk akal sebagai penjelasannya. Kesimpulan abduktif tidak pasti, tapi merupakan penjelasan yang paling mungkin.

Ciri-ciri Penalaran Abduktif:

  • Fokus pada mencari penyebab terbaik
  • Berdasarkan dugaan dan pemikiran masuk akal
  • Tidak selalu menghasilkan kebenaran mutlak
  • Diberikan 2 kemungkinan penyebab yang logis.
  • Kesimpulan adalah dugaan sementara, bukan keputusan final.

Contoh Penalaran Abduktif:

  • Gejala: Laptop tidak menyala.
  • Dugaan 1: Mungkin baterainya habis.
  • Dugaan 2: Mungkin chargernya rusak.
  • Dugaan 3: Mungkin mesinnya rusak.
  • Kesimpulan (sementara): Kemungkinan baterainya habis, charge rusak atau mesin rusak.
  • Gejala: Sepeda motor tidak bisa dinyalakan pagi ini.
  • Kemungkinan 1: Aki motor lemah atau habis.
  • Kemungkinan 2: Bensin habis.
  • Kesimpulan (sementara): “Kemungkinan motor tidak menyala karena aki lemah atau bensin habis. Perlu diperiksa lebih lanjut.”
  • Gejala : Siswa tidak hadir di kelas tanpa keterangan.
  • Kemungkinan 1: Bisa jadi dia sakit.
  • Kemungkinan 2: Bisa jadi ada urusan keluarga.
  • Kesimpulan (sementara): Ketidakhadiran siswa kemungkinan disebabkan karena sakit atau ada urusan keluarga.

Materi 4: Bilangan Biner, Desimal, dan Hexa Desimal
Bilangan Biner, Desimal, dan Hexa Desimal

Bilangan DESIMAL adalah sistem angka yang paling sering kita gunakan sehari-hari dengan basis 10, menggunakan angka 0 sampai 9. menggunakan simbol 10

Bilangan BINER adalah sistem angka dengan basis 2, hanya menggunakan dua bilangan yaitu 0 dan 1. Sistem ini dipakai komputer karena sesuai dengan keadaan listrik “hidup (1)” dan “mati (0)”. menggunakan simbol 2

Bilangan HEKSA DESIMAL adalah sistem angka dengan basis 16, menggunakan bilangan 0–9 dan huruf A–F (A=10, B=11, C=12, D=13, E=14 F=15). menggunakan simbol 16

1: Bilangan Biner

Bilangan biner merupakan sistem bilangan yang menggunakan basis dua dan mempresentasikan nilai yang berbeda berdasarkan posisinya. Dalam dunia komputer, bilangan biner hanya mempunyai dua keadaan, yaitu on (1) dan off (0). Bilangan ini mengunakan simbol (n)2

Materi 5: Jenis Jenis Data
Jenis Jenis Data

Secara umum, data adalah sekumpulan informasi atau keterangan yang diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian, atau pencatatan suatu peristiwa. Data digunakan untuk menarik kesimpulan, membuat keputusan, atau memecahkan masalah.

Data dapat dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Keduanya saling melengkapi—data kuantitatif menunjukkan angka dan ukuran, sedangkan data kualitatif menjelaskan makna dan sifat dari sesuatu.

1: Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, bisa dihitung, diukur, dan diolah dan bisa dihitung atau diukur. Data ini biasanya digunakan untuk analisis statistik karena memiliki sifat numerik.
Intinya Data kuantitatif → fokus pada angka dan perhitungan.

Ciri-ciri Data Kuantitatif:

  • Bentuknya berupa bilangan
  • Bisa dioperasikan dengan matematika (ditambah, dikurang, dihitung rata-rata, persentase, dsb).
  • Memiliki satuan ukuran (kg, cm, meter, rupiah, orang, dsb).
Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

  • Nilai ujian: 80, 75, 90.
  • Usia siswa: 16 tahun, 17 tahun.
  • Jumlah pengunjung perpustakaan per hari: 120 orang.
  • Tinggi badan siswa = 170 cm, 165 cm

2: Data Kualitatif

Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, deskripsi, kategori, atau simbol, bukan angka. Data ini menjelaskan sifat, kualitas, atau karakteristik dari suatu objek.
Data kualitatif → fokus pada deskripsi, sifat, atau kategori.

Ciri ciri Data Kualitatif:

  • Bentuknya berupa kategori, label, atau deskripsi.
  • Tidak bisa dioperasikan dengan rumus matematika secara langsung.
  • Lebih menekankan pada makna dan interpretasi.
  • Bersifat subjektif (bisa berbeda penilaian tergantung orang).

Contoh dalam kehidupan sehari-hari:

  • Warna favorit: merah, biru, hijau.
  • Status pekerjaan: bekerja, tidak bekerja, mahasiswa.
  • Pendapat siswa tentang guru: “menyenangkan”, “cukup baik”, “kurang menarik”.
  • Jurusan SMK = Teknik Elektro, RPL, Broadcasting
  • Tingkat kepuasan / Survei = puas, cukup, tidak puas

Materi 6: Prinsip Pemikiran Komputasional
Prinsip Pemikiran Komputasional

Pemikiran komputasional (Computational Thinking) adalah cara berpikir untuk memecahkan masalah secara logis, teratur, dan efisien seperti cara kerja komputer.

Tujuan utamanya adalah agar suatu masalah dapat diselesaikan langkah demi langkah dengan hasil yang jelas dan sistematis.

Dalam penerapannya, ada tiga prinsip penting yang saling berkaitan, yaitu dekomposisi, desain algoritma, dan flowchart. Ketiga prinsip ini bekerja berurutan dalam proses berpikir dan penyelesaian masalah.

  • Dekomposisi berarti memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dipahami dan dikerjakan. Dengan cara ini, kita tidak perlu memikirkan semua masalah sekaligus, tetapi fokus menyelesaikan satu bagian dalam satu waktu.
  • Desain Algoritma (Algorithm Design), Setelah masalah dipecah, langkah berikutnya adalah membuat rangkaian langkah logis dan berurutan untuk menyelesaikannya. Langkah-langkah ini disebut algoritma.
  • Flowchart adalah gambar atau diagram yang menunjukkan urutan langkah-langkah dalam algoritma secara visual. Dengan flowchart, seseorang bisa memahami proses tanpa harus membaca banyak teks.

1: Dekomposisi

Dekomposisi adalah teknik memecah suatu masalah besar menjadi bagian-bagian kecil yang lebih sederhana, sehingga lebih mudah dipahami dan diselesaikan.

Tujuan:

  • Mempermudah analisis masalah.
  • Memudahkan pembuatan solusi bertahap.
  • Mengurangi kerumitan (complexity).

Contoh: Berangkat ke Sekolah

Masalah besar: Pergi ke sekolah.
Dekomposisi/memecah masalah:

  • Bangun tidur.
  • Mandi dan berpakaian seragam.
  • Sarapan pagi.
  • Menyiapkan tas dan buku.
  • Berangkat naik motor/angkutan/jalan kaki.
  • Sampai di sekolah.

Contoh Membuat Teh dan Sarapan:


2: Algoritma

Algoritma adalah langkah-langkah logis dan sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah. Algoritma desain berarti menyusun urutan langkah secara rapi sebelum diterapkan ke dalam program.

Ciri-ciri algoritma:

  • Tersusun dari langkah-langkah terurut.
  • Setiap langkah jelas dan pasti.
  • Memiliki titik awal dan akhir.

Contoh (Membuat teh manis):

1. Panaskan air.
2. Masukkan teh ke dalam gelas.
3.Tuang air panas ke gelas.
4. Tambahkan gula.
5. Aduk hingga rata.
6. Selesai.

Contoh : Algoritma Membuat Mi Instan

1. Mulai.
2. Siapkan panci, air, mi, dan bumbu.
3. Rebus air sampai mendidih.
4. Masukkan mi ke dalam air panas.
5. Tunggu hingga matang.
6. Siapkan bumbu di mangkok.
7. Tuang mi dan kuah ke mangkok.
8. Aduk hingga rata.
9. Selesai (mi siap dimakan).

3: Flowchart

Flowchart adalah diagram alur yang menggambarkan langkah-langkah suatu algoritma dengan simbol-simbol tertentu untuk Membantu memahami alur proses secara visual.

Simbol dasar:

  • Oval → Start/End (awal/akhir).
  • Persegi panjang → Proses/perintah.
  • Belah ketupat → Keputusan (Ya/Tidak).
  • Panah / Garis → Arah alur.

Berikut Merupakan simbol-simbol yang sering digunakan secara umum

Contoh dari penggunaan flowchart sebagai berikut :
Flowchart Membuat Mie Instan


Search Mapel